Laman

Google Translate

Kamis, 20 Oktober 2011

LOMBA OPINI Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB


PESERTA
·   Peserta merupakan Warga Negara Indonesia (WNI)
·   Peserta merupakan Pelajar (SMP dan SMA) dan mahasiswa aktif (dibuktikan dengan fotocopy/scan kartu pelajar yang masih berlaku)
·   Peserta adalah perorangan atau individu

TEMA LOMBA
”Problematika Dunia Perikanan dan Kelautan Indonesia” , dengan subtema:
·   Impor garam dari India
·   Pencurian ikan di laut Indonesia
·   Pemanfaatan sumberdaya perikanan Indonesia

KETENTUAN LOMBA
  • Tiap peserta wajib mengumpulkan formulir pendaftaran dan disertai dengan kartu identitas peserta ( Kartu Pelajar, KTP, KTM, SIM ) yang masih berlaku dan 1 lembar pas photo berwarna ukuran 4×6
  • Karya merupakan karya asli peserta, bukan merupakan rekayasa/adaptasi atau tiruan karya lain, dan belum pernah diikutkan lomba atau dipublikasikan.
  • Setiap karya yang dikirimkan menjadi hak milik panitia dan tidak akan dikembalikan kepada peserta.
  • Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
  • Peserta bebas membuat topik/judul artikel sepanjang tidak keluar dari tema yang telah ditentukan oleh panitia

KETENTUAN LAIN
  1. SISTEMATIKA  PENULISAN
Persyaratan Penulisan
§  Opini belum pernah diterbitkan/dipublikasikan sebelumnya
§  Opini ditulis maksimal 500 kata.
§  Bahasa Indonesia yang digunakan hendaknya baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti.
§  Opini dikirim ke alamat email gebyarfpik2011@yahoo.com paling lambat tanggal 1 November 2011.
  1. Petunjuk penulisan/pengetikan
§  Opini diketik 1 (satu) spasi pada kertas berukuran A4 dengan font 12, times new roman style, jarak pengetikan 4 cm dari samping kiri, 3 cm dari samping kanan, 3 cm dari batas atas, dan 3 cm dari batas bawah.
§  Judul opini diketik menggunakan huruf besar (kapital) dengan font style bold (cetak tebal) dengan posisi di tengah tanpa digarisbawahi.
§  Nama penulis beserta alamat sekolah/institusinya diketik tepat di bawah judul artikel dengan jarak 1,5 spasi

HADIAH
  • Pemenang I : Sertifikat + Uang Tunai Rp 300.000;
  • Pemenang II : Sertifikat + Uang Tunai Rp 200.000;
  • Pemenang III : Sertifikat + Uang Tunai Rp 100.000;
Kriteria pemenang : Kesesuaian isi opini dengan tema yang diberikan.

Mahasiswa Ciptakan Kendaraan ala Star Wars


Pengendaranya pun bisa bergerak memutar melawan gravitasi, seperti sedang bermain


Kendaraan ala Star Wars (dailymail.co.uk)

VIVAnews - Tim mahasiswa dari Universitas Adelaide berhasil menciptakan kendaraan anti-gravitasi. Berbentuk kursi roda dengan dua roda besar, kendaraan ini dinamakan Edward, yang merupakan singkatan dari Electric Diwheel With Active Rotation Damping. 

Sebuah kursi mobil balap ditempatkan di tengahnya, sebagai tempat pengemudi mengendalikan kendaraan berwarna kuning ini. Sedangkan, stik pengendali ditempatkan di antara kedua kaki, hingga memudahkan pengemudi untuk menggerakkannya.

Kendaraan ini mampu menempuh kecepatan 25 mil per jam atau 40 kilometer perjam. Pengendaranya pun bisa bergerak memutar melawan gravitasi, seperti sedang bermain di salah satu wahana permainan Disneyland.

Untuk menciptakan kestabilan saat berkendara, pelajar ini menggunakan persamaan gerak dalam teori matematika, yang diterapkan dalam simulasi. Setelah itu, baru diciptakan sistem kontrolnya.

Kendaraan ini pun mampu bergerak memanjat. Namun, baru bisa memanjat ketinggian dengan derajat kemiringan 12 derajat.

Jack Parsons, salah seorang mahasiswa pembuat Diwheel ini mengatakan, "Edward tak hanya mampu bergerak, tapi juga hijau. Ini menggunakan tenaga listrik, namun dengan tenaga yang bisa dihemat sesuai kecepatan."

Kendaraan ini, selintas mirip dengan salah satu kendaraan dalam film fiksi ilmiah Star Wars: Revenge of the Sith. Mahasiswa itu seakan berusaha menghidupkan fantasi yang dibuat oleh George Lucas dengan menciptakan Diwheel. Namun, tentu saja Diwheel ini tidak bisa digunakan sebagai kendaraan sehari-hari. 


Koneksi Internet Lewat Sinar Lampu


Gelombang radio bukanlah satu-satunya bagian dari spektrum yang bisa menghantarkan data.


Gelombang radio bukanlah satu-satunya bagian dari spektrum yang bisa membawa data. Ada gelombang lain yang bisa digunakan untuk menjelajah Internet. (philips.co.id)

VIVAnews - Ketika berinternet, baik saat di kedai kopi, memanfaatkan wifi gratis di ruang rapat, sampai mencuri koneksi internet tetangga sebelah, Anda kemungkinan akan mengalami frustasi karena lambatnya kecepatan internet ketika banyak alat terhubung ke satu jaringan.

Semakin banyak pengguna, semakin banyak perangkat, yang terhubung ke internet secara nirkabel, gelombang udara yang tersumbat akan menyulitkan pengguna untuk mendapatkan kekuatan sinyal.

Namun demikian, gelombang radio bukanlah satu-satunya bagian dari spektrum yang bisa membawa data. Ada gelombang lain yang bisa digunakan untuk menjelajah Internet.

Dikutip dari Good Technology, 9 Agustus 2011, Harald Haas, fisikawan Jerman mengungkapkan solusi baru yang ia sebut sebagai “data lewat iluminasi’ atau membawa fiber keluar dari fiber optik dengan mengirimkan data lewat lampu LED yang memiliki intensitas bervariasi yang jauh lebih cepat dibanding yang bisa ditangkap manusia.

Idenya sama dengan remote control imfra merah. Namun lebih kuat.

Haas menyebutkan, temuannya ini, yang ia sebut D-Ligth, bisa menghasilkan transmisi data dengan kecepatan di atas 10 megabit per detik yang jauh di atas kecepatan rata-rata sambungan broadband saat ini.

Menurut Haas, di masa depan data yang akan dipancarkan ke laptop, smartphone, dan tablet akan ditransmisikan lewat lampu yang ada di ruangan. Dan masalah soal keamanan juga jadi sangat mudah. Jika sinar lampu tidak ada, data tidak bisa ditransmisikan.

Haas berpendapat, banyak hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi ini. Mulai dari akses internet publik lewat lampu jalanan,  sampai kendaraan yang dikemudikan secara otomatis lewat lampu depannya.

Selain itu, data yang hadir melalui spektrum yang bisa dilihat seperti cahaya lampu bisa membantu meredakan kekhawatiran bahwa gelombang elektromagnetik yang hadir bersama WiFi dapat merusak kesehatan.

Search Engine

Total Tayangan Halaman