Laman

Google Translate

Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2012

Tak Kapok, Rusia Siap Ulangi Misi ke Mars

Rusia menyatakan bahwa mereka akan mengulangi misi Phobos-Grunt mereka ke Mars jika lembaga antariksa Eropa (European Space Agency) memutuskan untuk tidak melibatkan Rusia dalam rencana program ExoMars mereka.

Seperti diketahui, misi Phobos-Grunt, yang bertujuan untuk mengambil sampel-sampel bebatuan dari Phobos, bulan milik planet Mars, diluncurkan pada 9 November lalu. Namun misi itu gagal karena ada kerusakan di mesin roket mereka dan akhirnya jatuh kembali ke Bumi, 15 Januari 2012.

“Kami telah berkonsultasi dengan ESA terkait partisipasi Rusia dalam proyek ExoMars,” kata Vladimir Popovkin, kepala lembaga antariksa Rusia (Roscomsmoc), dikutip dari UPI, 2 Februari 2012. “Jika tidak ada kata sepakat, kami akan mengulangi upaya untuk meluncurkan pesawat ke Phobos,” ucapnya.

Program ExoMars yang digelar oleh ESA sendiri bertujuan untuk mengirimkan pesawat ruang angkasa ke Mars di tahun 2016 mendatang. Robot yang dikirimkan akan menjelajahi planet itu selama 2 tahun kemudian.

ExoMars merupakan program kerjasama antara ESA dan NASA. Tetapi lembaga antariksa AS itu menyatakan bahwa partisipasi mereka tidak akan banyak dan mereka tidak akan menyediakan fasilitas peluncuran bagi pesawat tersebut.

Badan antariksa Rusia sendiri mengaku siap menyediakan sebuah roket Proton untuk meluncurkan pesawat pengorbit Mars itu, dan sebagai gantinya, mereka minta dilibatkan secara penuh dalam proyek eksplorasi di planet tersebut.

'Makanan' Black Hole: Asteroid

Tata surya kita, Bima Sakti, memiliki lubang hitam (black hole) raksasa yang dinamakan Sagittarius A*. Ilmuwan menduga, lubang hitam ini 'melahap' asteroid-asteroid yang bergerak mendekatinya.

Berdasarkan pengamatan NASA menggunakan sinar X,  Sagittarius A* memancarkan jilatan api saat melahap asteorid ini. Sinar ini membuatblack hole lebih terang 100 kali dibanding saat normal.

Lubang ini dikelilingi awan triliunan asteroid dan komet, kata ilmuwan. Benda-benda langit yang berjarak 100 juta mil akan tersedot ke dalam lubang dan terbakar.

"Studi menyebutkan bahwa lubang hitam memerlukan asteroid ini untuk memproduksi letupan api," kata Kastytis Zubovas dari University of Leicester, seperti dikutip dariDailymail.

Rekan Zubovas, Sergei Nayakshin, menambahkan orbit asteroid bisa berubah jika terlalu dekat dengan lubang hitam ini. Dan jika, terlempar ke lubang hitam, nasib asteroid ini sudah bisa dipastikan.

Jilatan api ini juga terdeteksi menggunakan infra merah oleh teleskop observatorium milik Eropa Selatan di Chile. Ilmuwan menduga jilatan ini dibuat dari bebatuan ruang angkasa yang berdiameter di atas 12 mil.

Lubang ini mungkin juga 'memakan' bebatuan yang lebih kecil tapi jilatannya sulit dideteksi.

Jika ada asteroid raksasa yang lewat terlalu dekat lubang hitam, kata ilmuwan, akan bergesekan dengan gas di Sagittarius A*. Reaksinya mirip saat meteor bergesekan dengan atmosfer saat akan masuk bumi. Jilatan api ini diproduksi asteroid yang akhirnya ditelan si lubang hitam.

Permukaan Mars Dipastikan Tak Bisa Dihuni

Anda pecinta film-film sains fiksi atau kehidupan di angkasa luar? Siap-siap untuk kecewa. Dari studi terakhir, permukaan planet Mars dipastikan merupakan tempat yang sangat tidak memungkinkan untuk menampung kehidupan. Apalagi setelah mengalami kekeringan selama 600 juta tahun terakhir.

Menurut peneliti dari Imperial College London, Inggris, planet merah itu telah benar-benar gersang selama kurun waktu tersebut dan sangat sulit bagi kehidupan untuk mampu bertahan di permukaannya.

Dalam studi, peneliti mengamati data yang dikumpulkan oleh Phoenix, satelit ruang angkasa milik NASA yang pada tahun 2008 lalu berangkat ke Mars. Seperti diketahui, tugas utama Phoenix sendiri adalah mendarat di sana dan mencari tanda-tanda apakah planet itu bisa dihuni. Phoenix juga digunakan untuk menganalisa es dan tanah yang ia dikumpulkan.

Sayangnya, hasil penelitian terhadap tanah yang diambil menunjukkan bahwa planet itu sudah gersang selama ratusan juta tahun. Kondisi ini terjadi meski ditemukan adanya serpihan-serpihan es di planet itu.

Dalam penelitian sebelumnya, memang diperkirakan bahwa Mars kemungkinan lebih hangat dan lebih basah di masa lalu. Namun jika demikian adanya, kondisi tersebut berada di kisaran 3 miliar tahun yang lalu.

Menurut peneliti, Phoenix memang hanya sempat menjelajah sebagian kecil saja dari planet itu. Namun dari citra satelit, serta dari penelitian-penelitian terdahulu, indikasinya adalah tanah yang serupa dengan sampel yang diambil oleh Phoenix, tersebar di seluruh Mars. Artinya, temuan terbaru ini bisa jadi berlaku di seluruh permukaan Mars.

“Kami mendapati bahwa meski banyak ditemukan es di Mars, planet itu telah mengalami kekeringan yang luar biasa yang kemungkinan telah berlangsung selama ratusan juta tahun,” kata Tom Pike, ketua tim peneliti, dikutip dari Mad Shrimps, 8 Februari 2012.

Meski demikian, Pike menyebutkan, ia dan timnya memperkirakan bahwa Mars yang kita ketahui saat ini sangat berbeda dengan Mars di masa lalu. “Misi NASA dan ESA di masa depan akan melakukan penggalian lebih dalam untuk mengetahui lebih lanjut peluang adanya kehidupan di bawah tanah,” ucapnya.

Kamis, 20 Oktober 2011

Kuburan Bangsa Viking Ditemukan Utuh


Kuburan itu berbentuk perahu. Usianya diperkirakan mencapai 1.000 tahun.


Kuburan Bangsa Viking (kentucky.com)

Para peneliti untuk pertama kalinya menemukan perahu yang digunakan untuk mengubur oleh bangsa Viking secara utuh. Benda yang diperkirakan berusia 1.000 tahun itu ditemukan di Skotlandia.

Situs penemuan itu terletak di the Scottish Highlands, di daerah terpencil di sebelah barat semenannjung Ardnamurchan. Dalam kuburan yang diduga berusia 1.000 tahun itu, ditemukan orang Viking yang dimakamkan di dalamnya. Selain itu, juga ditemukan kapak, pedang, dan tombak.

Para ahli dari Inggris yang melakukan investigasi di situs tersebut mengatakan bahwa perahu dengan sekitar 200 paku telah selesai digali. Seorang arkeolog, Helena Gray, menggambarkan penemuan itu hanya sekali seumur hidup. "Kita telah meneliti area ini sejak 2006 dan hampir seluruh kerja kami dikonsentrasikan di tempat yang berbeda," kata dia.

"Kami hanya menemukan sebagian kecil, gundukan tanah yang kecil dan kemudian memutuskan untuk melakukan investigasi. Kami tidak berfikir sedikit pun bahwa penelitian ini menemukan sesuatu yang penting."

Berdasarkan beberapa penemuan, sebuah perisai dan cincin perunggu juga dikubur bersama bangsa Viking.

Pimpinan proyek, Hannah Cobb mengatakan, "Meskipun kami telah menggali banyak artefak yang penting selama bertahun-tahun, saya fikir ini penemuan yang memenuhi harapan kami."

"Kuburan berbentuk perahu bangsa Viking merupakan penemuan luar biasa. Namun, disamping itu semua artefak ini menjadi penemuan kuburan yang paling penting di Britania."

Salah satu pimpinan proyek, Oliver Harris mengatakan, pencarian bangsa Viking bukan satu-satunya yang dilakukan oleh para arkeolog ini. Tapi, mereka juga mempelajari perubahan sosial dari penduduk paling awal hingga abad ke-18 dan ke-19.

Sabtu, 24 September 2011

Dampak Perubahan Iklim Greenland Dibantah




Ilmuwan bantah hasil pemetaan Times Atlas of the World soal kawasan bebas es yang meluas.


Sejumlah peneliti dari Universitas Cambridge membantah Times Atlas of the World, yang dianggap melebih-lebihkan soal dampak perubahan iklim. Dalam terbitan terbaru, Times Atlas menyebut terjadi perubahan secara drastis di kawasan pesisir Greenland, yang ditandai dari warna putih menjadi hijau.

Materi publikasi di atlas itu menyebut 'dampak nyata' bahwa 15 persen bongkahan es di Greenland telah mencair sejak 1999. Namun, penerbit atlas kemarin mengakui bahwa sejumlah area bebas es itu masih dilingkupi es seluas lebih dari seperempat mil.

Perdebatan ini muncul setelah kelompok ilmuwan dari Universitas Cambridge menulis bahwa perubahan iklim seperti yang digambarkan atlas adalah tidak benar, menyesatkan, dan tingkat pencairan es relatif bergerak lambat.

Para ahli yang juga tergabung dalam Scott Polar Research Institute ini mengatakan hilangnya daratan es seluas 115.830 mil persegi tidak memiliki dan bertentangan dengan gambar satelit terakhir.

Tidak ada angka resmi mengenai tingkat pencairan es. Tapi, salah seorang ilmuwan memperkirakan antara 0,3 dan 1,5 persen bongkahan es.

Sementara itu, atlas menyebut, "Untuk pertama kalinya edisi terbaru ini menghapus 15 persen daratan es Greenland --mengubah daratan es seluas Inggris itu memiliki kawasan "hijau" dan "bebas es" seluas Irlandia serta kutub es."

“Ini merupakan bukti konkret bagaimana perubahan iklim mengubah wajah planet selamanya, menjadi alarm, dan mempercepat tingkat  pencairan,” tulis atlas itu.

Tujuh ilmuwan Cambridge itu sebelumnya melakukan penelitian untuk mengetahui perubahan bongkah es di Greenland. Walau berbeda pendapat soal area bebas es, tapi mereka tidak memperdebatkan tentang luas gletser yang semakin mengecil, walau tak seperti yang diperlihatkan Times Atlas.

Ahli gletser Scott Institute, Dr Poul Christoffersen, mengatakan, “Kami mempercayai bahwa angka daratan yang semakin berkurang 15 persen sejak publikasi pertama 12 tahun lalu itu salah dan menyesatkan,” ujarnya.

“Kami membandingkan dengan gambar satelit Greenland dengan peta baru dan menemukan bahwa gletser dan daratan yang terlingkupi es secara permanen masih ada dalam jumlah besar, sedangkan Times Atlas memperlihatlan ada kawasan bebas es dan munculnya daratan baru," jelasnya.

“Kami menyimpulkan bahwa sejumlah wilayah yang dikategorikan sebagai area bebas es di atlas ternyata masih dilingkupi es. Tak ada data dan literatur ilmiah yang mendukung (atlas) ini."

Jika perhitungan Times Atlas benar, bongkahan es telah menyusut rata-rata sebesar 1,5 persen tiap tahun sejak 1999. Tapi, kebanyakan ilmuwan mengatakan bahwa rata-rata menyusut 0,1 persen dalam 12 tahun terakhir.

Profesor geografi dari Universitas Trent, Kanada, Graham Cogley menyatakan perubahan iklim memang ada dan daratan es memang menyusut. Namun, pernyataan itu belum didukung secara ilmiah.

“Pengukuran yang terbaik di Greenland, yang meliputi bongkahan es, menyatakan bahwa 1,5 persen tiap tahun, yang setidaknya sepuluh kali lebih cepat dari saat ini.”

“Pengukuran itu secara mudah menjadi 20 kali lebih cepat dan mungkin bisa mencapai 50 kali,” lanjutnya.

Ahli hodrologi dari Universitas Arizona, Dr Jeffrey Kargel, mengatakan bahwa hal itu merupakan kesalahan fatal yang tidak dapat dibiarkan.

Times Atlas, yang mengklaim sebagai pihak paling memiliki otoritas soal pemetaaan, muncul pertama kali pada 1895. Times Atlas merupakan produksi HarperCollins, milik News Corporation.

Juru bicara HarperCollins, kemarin, mengakui bahwa daratan yang diwarnai hijau dan bebas es itu bisa mencapai hingga 500 meter, lebih dari seperempat mil. “Saya dapat mengerti mengapa Anda melihatnya sebagai kesalahan,” ujarnya.

Ia juga berkata bahwa data itu diberikan oleh data Pusat Es dan Salju Nasional Amerika Serikat di Colorado. Tapi, Ted Scambos, yang menjadi peneliti kepala mengatakan Atlas seharusnya menggunakan data website Pusat Es dan Salju itu untuk menunjukkan ketebalan es dan bukan perluasan berkurangnya daratan es.

Ted menambahkan bahwa Pusat Es dan Salju tidak pernah dihubungi oleh pembuat peta Atlas. “Peta ini tidak akan layak dipakai dan ada banyak gletser kecil serta kubah es di sekitar sekeliling Grennland yang seharusnya termasuk bongkahan es permanen,” ujar Ted.

"Masalahnya adalah mungkin banyak orang berpikir pencairan kurang dari 15 persen sebagai sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan --tapi kenyataannya iya. Sedangkan masyarakat yang skeptis menganggap ada yang lempar tanggung jawab dan ini membingungkan, ketika kenyataannya banyak kesalahpahaman di area ini."

Energi Listrik Hibrid dari Pantai Pandansimo



Teknologi ini memanfaatkan potensi sumber daya angin laut dan angin darat.


Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK) tengah mengembangkan pemanfaatan energi listrik hibrid dari hasil potensi energi angin dan energi panas matahari di pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta.

Terdapat 35 unit turbin angin yang sudah dipasang dengan tinggi rata-rata 18 meter . Terdiri 26 turbin angin dengan kapasitas 1 kW, 6 turbin angin 2,5 kW,  2 turbin angin 10 kW, dan satu turbin angin 50 kW. Ditambah 175 unit sel surya dengan kapasitas 17,5 kWp.

Rahmawan Budiarto, anggota tim peneliti,  mengatakan teknologi tersebut memanfaatkan potensi sumber daya  angin laut dan angin darat di pantai Pandasimo Bantul yang memiliki kecepatan rata-rata 3-4 meter/detik dan intensitas sinar matahari yang besar dan tetap.

“Kekuatan kecepatan angin di Pandansimo termasuk rendah, sehingga dikombinasikan dengan energi sel surya. Dari keduanya, setiap hari hasilkan 130 kW,” kata Rahmawan, Yogyakarta, Jum'at 23 September 2011.

Instalasi turbin dan sel surya yang sudah terpasang akhir tahun lalu tersebut, kata Rahmawan, telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pantai guna produksi listrik untuk menghidupkan mesin es untuk produksi es balok yang sering dimanfaatkan para nelayan.

“Untuk sementara ini, pemanfaatan energi listrik hibrid ini sepenuhnya untuk membantu pengembangan ekonomi masyarakat nelayan dan petani sekitar,” ujarnya.

Bambang Susilo, salah satu anggota tim pengembangan ekonomi berbasis energi mandiri, menuturkan timnya tengah memanfaatkan energi listrik hibrid untuk mengangkat air dari sumur renteng melalui mesin pompa air. Air tersebut selain mengairi 40 kolam yang masing-masing berukuran 8x4 meter juga dimanfaatkan untuk menyiram tanaman untuk kegiatan pertanian di lahan marjinal.

“Air dari kolam, tiap pagi dinaikin lewat pompa air. Limpahan kotoran air dari kolam ini digunkan untuk menyiram tanaman cabe dan terong, dan bayam” ungkapnya.

Sementara untuk produksi es balok, kata Bambang, saat ini sepenuhnya dikelola oleh kelompok masyarakat sekitar. Tiap hari sekitar 70-100 es balok yang dijual ke nelayan dengan harga Rp 1000 per satu es balok.

Ikan Hiu, Spesies Penyelamat Umat Manusia?




Hiu memiliki squalamine, senyawa yang mampu melindunginya dari serangan virus.


Sebuah senyawa kimia yang ditemukan pada ikan hiu dogfish (Squalus acanthias) ternyata bisa membantu para ilmuwan mengembangkan senjata untuk melawan virus yang menyerang manusia. Temuan ini diungkapkan oleh peneliti dari Georgetown University Medical Center.

Peneliti menyebutkan, hiu dogfish memiliki kekebalan alami terhadap infeksi akibat virus karena memiliki senyawa yang disebut squalamine yang mampu mengatasi bakteria. Kemungkinan, squalamine juga dapat membunuh berbagai virus yang lazim menyerang manusia dan hewan lain.

Dalam penelitian, sebuah senyawa squalamine sintetik telah diinjeksikan pada sejumlah pasien untuk mencegah pertumbuhan pembuluh darah pada penderita kanker. Ternyata, tidak ada efek samping signifikan yang terlihat. Dari uji coba tersebut, diketahui pula bahwa senyawa itu sukses mengatasi virus dengue dan hepatitis B serta D.

Ilmuwan juga memuji squalamine atas keamanan dan bagaimana ia dapat dengan mudah dibuat. Pada laporannya, peneliti menyebutkan, senyawa kimia ini bekerja dengan mengganggu interaksi membran yang dibutuhkan untuk replikasi virus.

“Squalamine tampaknya mampu melindungi tubuh terhadap virus yang menyerang hati dan jaringan darah. Adapun senyawa serupa lain yang kita ketahui ada di ikan hiu mampu melindungi terhadap infeksi virus yang berkaitan dengan gangguan pernafasan, dan lain-lain,” kata Michael Zasloff, ketua tim peneliti, seperti dikutip dari New Age, Rabu 21 September 2011.

Zasloff menyebutkan, seseorang bisa memanfaatkan sistem kekebalan unik milik ikan hiu untuk membuat senyawa antivirus ini menjadi zat yang mampu melindungi manusia terhadap berbagai macam virus. “Jika berhasil, ini merupakan langkah revolusioner,” ucapnya.

Meski demikian, Zasloff menyebutkan, masih banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mengetahui apakah squalamine bisa dijadikan kandidat untuk pengobatan. “Namun kemungkinannya sangatlah menarik,” ucapnya.

Ditemukan, Partikel Lebih Cepat dari Cahaya




Bila berhasil diverifikasi, temuan ini membatalkan teori Einstein seputar relativitas.


Sejumlah fisikawan menyatakan bahwa mereka telah menemukan sebuah partikel sub atomik yang disebut dengan neutrino, yang mampu berjalan dengan kecepatan lebih tinggi dibanding kecepatan cahaya.  Temuan ini, bila berhasil diverifikasi, akan membatalkan teori Albert Einstein seputar relativitas.

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh para peneliti di European Centre for Nuclear Research (CERN) di Swiss dan sebuah laboratorium di Italia, partikel mikro itu mampu bergerak dengan kecepatan hingga 300.006 kilometer per detik. Sedikit lebih cepat dibanding cahaya yang hanya mampu menembus kecepatan 300.000 kilometer per detik.

“Temuan ini sangat mengejutkan kami,” kata Antonio Ereditato, ilmuwan yang menjadi juru bicara eksperimen yang memiliki sandi Opera, seperti dikutip dari News 24, 23 September 2011.

Seperti diketahui, sebelum ini para ilmuwan menganggap tidak ada partikel yang mampu bergerak lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan cahaya. “Kini kami sedang mencari penjelasan yang paling memungkinkan untuk semua ini,” ucap Ereditato.

Dari uji coba, sebuah akselerator partikel menembakkan pancaran neutrino dari laboratorium CERN di Swiss ke sebuah lab di Italia. Ternyata, pancaran partikel itu tiba dalam waktu 60 nanodetik atau seperenampuluh miliar detik, lebih cepat dibanding cahaya.

Pada tahun 1905, Albert Einstein melontarkan teori seputar relativitas, teori yang dikenal dengan persamaan E=MC2 yang saat ini menjadi komponen fundamental dalam ilmu fisika modern. Teori ini berdasarkan pada ide bahwa tidak ada yang bergerak lebih cepat dibanding cahaya.

Jika temuan seputar neutrino ini berhasil diverifikasi, ia akan memaksa para ilmuwan untuk memikirkan ulang apa yang telah ditemukan dalam seabad terakhir terkait bagaimana cara kerja alam semesta.

Hasil temuan dalam uji coba itu dianggap sulit dipercaya, bahkan oleh para ilmuwan yang menemukannya. Para ilmuwan juga tengah mengonsultasikan dengan rekan-rekan mereka di berbagai belahan dunia untuk verifikasi, untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam metode pengujian ataupun kalkulasi yang dibuat.

Kamis, 01 September 2011

ASTRONOMI : Ditemukan ‘Planet Berlian’ Lima Kali Ukuran Bumi






PHOBIA - Sejumlah ahli astronomi melihat sebuah planet eksotik. Mereka berpikir telah menemukan bintang besar di Bima Sakti yang berubah menjadi sebuah planet kecil yang terbuat dari berlian.

Temuan itu bermula ketika tim peneliti dari sejumlah negara seperti Inggris, Australia, Jerman, Italia, dan Amerika Serikat mendeteksi sebuah bintang yang tidak biasa yang disebut pulsar.

Mereka lantas melanjutkan temuan itu dengan meneliti menggunakan teleskop dari sebuah observatorium di Cheshire, Inggris.

Hasil temuan itu membawa para peneliti menemukan daya tarik gravitasi dari pendamping kecil planet yang mengorbit pulsar.

Tim berpikir "planet berlian" adalah sisa dari bintang asli, yang sebagian besar tersedot ke pulsar. Pendamping planet itu luasnya kurang dari 40 ribu mil atau sekitar lima kali diameter bumi.

Hasil pengukuran menunjukkan planet yang mengorbit bintangnya setiap dua jam 10 menit ini memiliki berat lebih sedikit dibandingkan Jupiter, tapi 20 kali lipat lebih padat. Kepadatan yang tinggi menunjukkan tidak tampak unsur hidrogen dan helium.

Anggota tim peneliti Dr. Michael Keith mengatakan, “Sisa ini mungkin sebagian besar adalah karbon dan oksigen,” katanya seperti dikutip dari Daily Mail, Kamis, 25 Agustus 2011.

“Sejarah evolusi dan kepadatan yang luar biasa dari planet menunjukkan itu terdiri dari karbon,” kata Matthew Bailes dari Swinburne University of Technology di Melbourne, Australia, seperti dikutip dari Reuters, Kamis, 25 Agustus 2011.

Kepadatan ini bisa berarti material tersebut sesuatu seperti kristal. Sebagian besar di antaranya mungkin sama dengan berlian.

Pulsar yang dijuluki PSRJ1719-1438 itu berjarak 4.000 tahun cahaya. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal Science.

Senin, 29 Agustus 2011

Sejarah

PHOBIA - Sebuah ekskavasi arkeologi di Arab Saudi menemukan jejak peradaban dari 9.000 tahun silam, atau sekitar 7.000 Sebelum Masehi. Penelitian dari ekskavasi itu menyebutkan, pada waktu itu sudah ada domestifikasi kuda (cikal bakal peternakan kuda) di sekitar Semenanjung Arab.

Peradaban ini kemudian dinamakan peradaban Al Maqar, sesuai nama situs lokasi penemuan. Temuan ini sekaligus menjadi teori ilmiah baru mengenai domestifikasi hewan. Ali Al-Ghabban, Wakil Direktur Kepurbakalaan dan Museum dari Komisi Pariwisata dan Kepurbakalaan Arab Saudi, mengatakan sebelumnya diyakini domestifikasi hewan tertua dalam peradaban manusia adalah 5.500 tahun lalu di Asia Tengah.

"Penemuan (di Al Maqar) ini merupakan peradaban yang sangat maju dari masa Neolitik. Situs ini memperlihatkan secara jelas akar domestifikasi kuda-kuda sejak 9.000 tahun lalu," kata Al-Ghabban, seperti dikutip Gulf News.

Ekskavasi di Al Maqar juga menemukan sejumlah artefak dan fitur penting dari peradaban 9.000 tahun silam itu. Ini termasuk penemuan kerangka manusia yang dimumikan, kepala panah, penggilingan gandum, juga alat tenun. Sejumlah temuan itu memperlihatkan manusia yang tinggal di peradaban Al Maqar memiliki keahlian di bidang kerajinan tangan.

Sejarah

PHOBIA - Para ilmuwan di Cina menemukan fosil hewan sejenis tikus, yang dianggap bakal mengungkap sejarah evolusi mamalia, temasuk manusia. Fosil itu berasal dari makhluk yang diyakini hidup sekitar 160 juta tahun yang lalu.

Fosil dari makhluk yang dinamakan Juramaia sinensis ini merupakan fosil tertua yang pernah ditemukan dari kelompok hewan yang disebut eutheria, atau mamalia plasental. Kelompok hewan mamalia plasental ini memiliki ciri melahirkan, di antaranya seperti sapi, tikus, singa, macan, anjing, paus, dan primata.

Mamalia berbulu yang fosilnya ditemukan di provinsi Liaoning ini diperkirakan tinggal di timur laut Cina selama era Jurasik. Ini merupakan era ketika dinosaurus masih menguasai Bumi.

Dr. Zhe-Xi Luo, paleontologis dari Carnegie Museum of Natural History di Pittsburgh, Amerika Serikat, mengatakan: "Juramaia, dari 160 juta tahun lalu merupakan nenek-moyang atau 'bibi-moyang' semua mamalia plasenta yang berkembang hari ini,” ujarnya. Zhe-Xi Luo kemudian menjelaskan, hasil analisis kerangka fosil menunjukkan hewan ini adalah makhluk tangkas dengan kemampuan memanjat yang sangat kuat.

Gambaran fosil tersebut, menurut para peneliti merupakan tonggak sejarah baru dalam evolusi mamalia yang mencapai 35 juta tahun.

Nama Juramaia sinensis memiliki arti 'Induk Jurasik dari Cina'. Fosil ini sendiri memiliki tengkorak yang tidak lengkap, sebagian kerangka, dan jaringan lunak sisa, seperti rambut. Juramaia juga memiliki gigi yang lengkap. Para ahli paleonantropologi memperkirakan fosil ini lebih dekat dengan makhluk marsupial berkantung, seperti kanguru.

"Memahami titik awal placentals merupakan isu penting dalam studi semua evolusi mamalia," kata Zhe-Xi Luo.

Waktu perubahan evolusi--saat spesies leluhur terbagi menjadi dua garis keturunan keturunan--merupakan salah satu informasi terpenting yang bisa dimiliki seorang peneliti evolusi.

Sebelum penemuan Juramaia, titik perbedaan makhluk jenis eutheria dari metatherians menimbulkan kesulitan bagi para sejarawan evolusi. Bukti dari eutheria DNA menyarankan, seharusnya muncul lebih awal dalam catatan fosil--sekitar 160 juta tahun lalu. Namun, eutheria tertua adalah Eomaia, yang hidup 125 juta tahun lalu.

Juramaia juga mengungkapkan fitur adaptif yang mungkin telah membantu para pendatang baru eutheria untuk bertahan hidup di lingkungan Jurasik. Juramaia menggunakan tungkai depan untuk memanjat dan mampu menyesuaikan dengan cara hidup Jurasik.

"Perbedaan mamalia eutheria dari marsupial akhirnya menyebabkan kelahiran plasenta dan reproduksi yang sangat penting bagi keberhasilan evolusi placentals.” ungkap Dr. Luo. "Tapi itu adalah adaptasi awal mereka untuk mengeksploitasi tempat pada pohon yang membuka jalan mereka menuju kesuksesan evolusi ini.

Search Engine

Total Tayangan Halaman