Laman

Google Translate

Rabu, 22 Februari 2012

Permukaan Mars Dipastikan Tak Bisa Dihuni

Anda pecinta film-film sains fiksi atau kehidupan di angkasa luar? Siap-siap untuk kecewa. Dari studi terakhir, permukaan planet Mars dipastikan merupakan tempat yang sangat tidak memungkinkan untuk menampung kehidupan. Apalagi setelah mengalami kekeringan selama 600 juta tahun terakhir.

Menurut peneliti dari Imperial College London, Inggris, planet merah itu telah benar-benar gersang selama kurun waktu tersebut dan sangat sulit bagi kehidupan untuk mampu bertahan di permukaannya.

Dalam studi, peneliti mengamati data yang dikumpulkan oleh Phoenix, satelit ruang angkasa milik NASA yang pada tahun 2008 lalu berangkat ke Mars. Seperti diketahui, tugas utama Phoenix sendiri adalah mendarat di sana dan mencari tanda-tanda apakah planet itu bisa dihuni. Phoenix juga digunakan untuk menganalisa es dan tanah yang ia dikumpulkan.

Sayangnya, hasil penelitian terhadap tanah yang diambil menunjukkan bahwa planet itu sudah gersang selama ratusan juta tahun. Kondisi ini terjadi meski ditemukan adanya serpihan-serpihan es di planet itu.

Dalam penelitian sebelumnya, memang diperkirakan bahwa Mars kemungkinan lebih hangat dan lebih basah di masa lalu. Namun jika demikian adanya, kondisi tersebut berada di kisaran 3 miliar tahun yang lalu.

Menurut peneliti, Phoenix memang hanya sempat menjelajah sebagian kecil saja dari planet itu. Namun dari citra satelit, serta dari penelitian-penelitian terdahulu, indikasinya adalah tanah yang serupa dengan sampel yang diambil oleh Phoenix, tersebar di seluruh Mars. Artinya, temuan terbaru ini bisa jadi berlaku di seluruh permukaan Mars.

“Kami mendapati bahwa meski banyak ditemukan es di Mars, planet itu telah mengalami kekeringan yang luar biasa yang kemungkinan telah berlangsung selama ratusan juta tahun,” kata Tom Pike, ketua tim peneliti, dikutip dari Mad Shrimps, 8 Februari 2012.

Meski demikian, Pike menyebutkan, ia dan timnya memperkirakan bahwa Mars yang kita ketahui saat ini sangat berbeda dengan Mars di masa lalu. “Misi NASA dan ESA di masa depan akan melakukan penggalian lebih dalam untuk mengetahui lebih lanjut peluang adanya kehidupan di bawah tanah,” ucapnya.

Swiss Buat Satelit Penyapu Sampah Angkasa

Bumi saat ini dikelilingi jutaan sampah luar angkasa, dari seukuran bus kota hingga rongsokan kaleng. Sampah luar angkasa ini tidak hanya membahayakan bumi, sebab bisa jatuh kapan saja.

Tapi, sampah ini juga bisa membahayakan Stasiun Luar Angkasa Internasional yang kini berada di orbit dalam. Sebab saat dua objek ini bertabrakan, maka akan pecah hingga ribuan keping. Tentu ini mengganggu operasional stasiun.

Untuk mengatasi masalah sampah angkasa ini, sejumlah ilmuwan dan teknisi Swiss menciptakan proyek CleanSpace One. Prototipe proyek satelit penyapu sampah angkasa ini pun dibuat dengan bentang panjang 30 cm, serta panjang dan tinggi 10 cm.

Satelit penyapu ini rencananya akan siap diluncurkan awal tahun 2015. Dengan demikian CleanSpace One dirancang untuk bertemu dan menghancurkan picosattelit (satelit mikro) milik Swiss lain, Tisat.

Saat tiba di tempat yang ditargetkan, satelit pembersih CleanSpace One akan membuka 'tangannya', menggenggam satelit sampah, dan membawanya agar terbakar bersama di atmosfer.

CleanSpace One didesain dan dibangun di Swiss Space Center, bagian dari Swiss Federal Institute for Technology di Lausenne (EPFL). Para ilmuwan itu saat ini sedang mengembangangkan sistem propulsi (kendali) elektrik yang memungkinkan CleanSpace One menggenggam sampah luar angkasa tersebut.

"Tantangan utama saat ini memang menyiapkan tangan robotik atau mekanisme persiapan yang memungkinkan menggenggam satelit Swiss (Tisat) itu," kata peneliti EPFL, Muriel Richard.

Jika ini berhasil dikembangkan, tim berharap bisa menawarkan dan menjual sistem buatan mereka untuk membersihkan sampah luar angkasa dalam berbagai bentuk dan ukuran. "Badan luar angkasa merasa perlu untuk menjadikan ini sebagai pertimbangan dan persiapan untuk membersihkan barang yang telah mereka lontarkan ke luar angkasa. Kami ingin menjadi perintis di area ini," kata Direktur Swiss Space Center, Volker Gass.

Senada dengan Volker Gass, Muriel Richard pun mengatakan sistem CleanSpace One yang terbilang murah ini diharapkan bisa membantu pengembangan pembersihan sampah luar angkasa. "Ini bukan pembangunan jutaan, tapi ini pembangunan dengan level yang berbasis di universitas," tuturnya.

Menurut astronot dan profesor di EPFL, Claude Nicollier, sampah luar angkasa memang menjadi permasalahan besar yang kerap dianggap sepele, sama seperti pemanasan global. "Ada kesamaan dari dua permasalahan itu, jika kita tidak melakukan apa-apa, kita memiliki masalah besar di masa depan," ujarnya.

Google Kembangkan Kacamata Masa Depan

 Saat meluncurkan tablet iPad, pendiri Apple Steve Jobs pernah mendeklarasikan berakhirnya era PC dan dimulainya era post-PC. Ucapan Steve Jobs ini sepertinya menjadi sebuah penanda awal perkembangan teknologi mobile, dari perangkat genggam hingga kacamata. 

Perusahaan teknologi Google dikabarkan sedang mengembangkan kacamata berteknologi tinggi, yang akan memiliki fungsi hampir sama seperti smartphone berbasis Android. Dengan demikian, penggunanya akan mampu mengumpulkan informasi, hingga berkomunikasi dengan menggunakan kacamata ini.



Mengutip laman New York Times, sejumlah karyawan Google yang terlibat proyek ini bahkan mengatakan kacamata ini akan dipasarkan akhir tahun ini. Mereka mengungkap bahwa kacamata canggih ini akan dijual seharga smartphone, yaitu sekitar US$ 250 hingga US$ 600.

Kacamata ini juga disebut akan menggunakan sistem operasi Android. Adapun layarnya akan bisa dilihat saat kacamata itu digunakan. Bahkan, kacamata ini disebut akan menggunakan jaringan 3G atau 4G, dan dilengkapi sensor gerak dan GPS.

Kabar ini pertama kali dipublikasi oleh seorang blogger Seth Weintraub di blognya, "9 to 5 Google". Selain menyebut berbasis Android, Seth juga mendapat informasi dari sumbernya bahwa model kacamata itu akan mirip dengan Oakley Thumps.

Seth juga menulis kacamata akan memiliki sistem navigasi unik, yaitu dengan menggerakkan kepala untuk scroll atau klik. "Ini akan mudah dipelajari dan pengguna akan beradaptasi secara cepat dengan navigasi, yang akan alamiah dan tak terlihat mencolok oleh orang yang melihatnya," tulis Seth.

Kacamata yang oleh Seth disebut "Heads Up Display" ini juga dikabarkan akan mampu memberikan informasi mengenai lokasi, gedung-gedung, dan teman yang ada di lingkungan sekitar. Walau begitu, kacamata ini disarankan untuk tidak digunakan secara konstan, karena memang tidak didesain untuk penggunaan dalam jangka waktu lama.

Tapi juru bicara Google menolak memberi komentar mengenai kacamata masa depan ini.

Selain Google, perusahaan yang fokus di teknologi visual, Lumus, juga dikabarkan sedang membuat kacamata sejenis. Kacamata PD-18-2 ini memungkinkan pengguna melihat gambar berkualitas tinggi sambil berjalan atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Search Engine

Total Tayangan Halaman